Minggu, 01 Desember 2013

Kondisi Belajar Robert Gagne

         Keterampilan, apresiasi, dan penalaran manusia dengan semua variasinya, dan juga harapan, aspirasi, sikap, dan nilai-nilai manusia, umumnya diakui bahwa perkembangannya sebagian besar bergantung pada peristiwa yang disebut dengan belajar, (Gagne, 1985)
         Sebagai direktur laboraturium yang meriset latihan-latihan personel pemeliharaan perlengkapan elektornik, Robert Gagne (1926 , 1987) melaporkan bahwa prinsip belajar tradisional, (yakni kontiguitas , hokum efek) tidak membantu dalam memperbaiki latihan. Terlepas dari prinsip yang tidak terbantahkan itu, yakni sebagai “mengatur kontingensi penguatan baru” prinsip itu tidak memberi kontribui bagi perencanaan pembelajaran untuk jenis hasil belajar yang berbeda. ( Gagne , 1974)
           
Asumsi
Alasan
Belajar dan pertumbuhan tidak boleh disamakan satu sama lain  Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan terutama ditentukan secara genetic. Faktor yang mempengaruhi belajar terutama ditentukan oleh kejadian dalam lingkungan pemelajaran

Belajar adalah faktor kausal penting dalam perkembangan individual
Model yang diusulkan Arnold Gessel, bahwa pertumbuhan tubuh dan mental terkait erat , adalah tidak akurat

Banyak hasil belajar manusia digeneralisasikan ke berbagai macam situasi
Belajar bukan akuisisi kepingan-kepingan informasi secara terpisah-pisah. Penjumlahan, misalnya, berlaku untuk situasi seperti penyeimbangan neraca, menghitung oajak, dan menyusun anggaran
Belajar manusia adalah kumulatif; belajar keterampilan yang kompleks didasarkan pada belajar sebelumnya Seseorang tidak harus mempelajari seperangkat respons baru secara lengkap di banyak situasi. Misalnya, keterampilam menjumlah angka memberi kontribusi untuk kemampuan membagi
Belajar bukan proses tunggal Model 5-R dapat menjelaskan asosiasi sederhana, tetapi tidak dapat menjelaskan belajar keterampilan yang kompleks. Juga, belajar membaca atau mengucapkan bahasa asing bukan hasil dari wawasan (insight)

            Pendekatan Gagne untuk pemahaman belajar pada manusia berbeda dengan pendekatan sebelumnya, terutama dalam 2 hal,. Pertama, keharusan langkah awal untuk menganalisis keragaman belajar manusia. Kedua, belajar dan pembelajaran harus dikembangkan secara beriringan. Gagne mendeskripsikan 3 kerangka belajar yaitu :
  • Lima ragam belajar ; informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, keterampilan motorik/gerak, dan sikap
  • Kondisi belajar internal ; (a) prasyarat internal untuk mempelajari kepabilitas tertentu dan (b) seperangkat proses kognitif yang terlibat di dalam belajar
  • dan Kondisi belajar eksternal; prasyarat pendukung dari luar seperti kondisi belajar yang nyaman dll.




Rabu, 20 November 2013

Pernikahan Dini



Halo… disini saya akan bercerita tentang pernikahan dini, mengapa pernikahan dini dapat terjadi serta dampak dari pernikahan dini tersebut :)
Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilakukan pada usia yang terlalu muda. Fenomena seperti kebiasaan yang keliru sudah terlanjur diterapkan di beberapa daerah masyarakat Indonesia tertentu. “Menikah adalah tujuan utama dari hidup dan wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena akan berujung meladeni suami dan ke dapur” sudah kerap menjadi pandangan kebanyakan lapisan masyarakat yang juga menyebabkan pernikahan dini ini terjadi.
Di era modern ini, tidak jarang kita mendengar seseorang menikah di usia yang sangat muda atau yang umumnya disebut dengan penikahan dini. Pernikahan dini masih menjadi fenomena yang sering ditemui, padahal benyak penelitian di AS yang mengungkapkan bahwa pernikahan yang dilakukan di usia sangat muda di bawah usia 19 tahun ke bawah berpotensi meningkatkan angka kematian ibu dan anak.
Nah, ketika seseorang memutuskan untuk melakukan pernikahan dini maka yang ada dibenak kita adalah “mengapa?”. Banyak alasan mengapa seseorang melakukannya diantaranya adalah perspektif agama seperti kaum muslim yang memilih menikah muda bisa menjadi motif untuk mengatasi problem sosial yang ada. Problem yang dimaksud berkaitan dengan keberadaan naluri melangsungkan keturunan. Problem tersebut lahir karena beberapa faktor sosial; beberapa kelompok masyarakat banyak menyuguhkan stimulus-stimulus yang membangkitkan nafsu seksual, seperti pergaulan bebas dan video porno yang  mudah untuk di konsumsi secara bebas baik dari penjualan di pasar, media, dan sarana-sarana lain yang dapat memanjakan syahwat rendahan. Adapun lagi alasan mengapa seseorang menikah muda adalah karena paksaan dari orang tua yang menjodohkan anaknya untuk menikah dengan calon pasangan yang sudah dipilihnya, prinsip dari keturunan sebelumnya yang memandang jika menikah muda memiliki dampak positif untuk keturunannya, kemiskinan dan konflik-konflik yang ada juga dapat mempertajam keinginan orang tua agar anak gadisnya menikah muda.
Berbagai faktor tersebut itu bersinegri secara negatif menciptkan suatu kondisi yang sangat menyiksa generasi muda, kondisi demikian lah yang membuat remaja untuk menggap pernikahan diri sebagai jalan keluar untuk mencegah diri dari hal yang tidak diinginkan.
Pernikahan dini memiliki beberapa dampak negatif dan positif untuk kita cermati:
Dampak positif :
Pernikahan sejatinya memang suatu hal yang sakral. Yang setiap orang pasti memiliki perasaan bahagia, senang saat menikah. Umumnya orang menginginkan moment ini terjadi hanya sekali dalam hidupnya. Sekali seumur hidup dijadikan alasan yang kuat bagi seseorang untuk menikah di usia yang benar-benar matang agar tidak menyesal dikemudian hari. Meskipun demikan, bukan berarti menikah di usia muda tidak memberikan kebahagiaan. Dampak positif dari menikah di usia muda adalah terhindar dari seks bebas, memiliki anak dengan usia yang tidak terlalu jauh. Jadi, anda bisa memiliki cucu dalam usia yang tidak terlalu tua, menumbuhkan rasa tanggung jawab sejak dini,
Dampak negatif :

  1. Dampak fisik  
  2. Dampak psikologis

Dampak fisik ini adalah masalah yang timbul setelah pernikahan, seperti ekonomi rumah tangga, kanker rahim karenanya wanita yang sudah menikah direntang umur 17-20 tahun beresiko terkena kanker rahim karena sel-sel rahim yang belum matang. Kalau terpapar human papiloma virus atau HPV pertumbuhan sel akan menyimpang menjadi kanker. Resiko tinggi ibu hamil, dilihat dari segi kesehatan, pasangan usia muda dapat berpengaruh pada tingginya angka kematian ibu yang melahirkan, kematian bayi berpengaruh pada rendahnya derajat kesehatan ibu dan anak dan tingginya angka kematian ibu dan bayi biasanya terjadi akibat komplikasi saat melairkan, tubuh kekurangan gizi hingga bayi terlahir cacat.
Dampak psikologis seperti depresi berat atau neuritis depresi akibat pernikahan dini, bisa terjadi pada kondisi kepribadian yang berbeda, sulitnya mengontrol emosi yang masih labil antara remaja laki-laki dan perempuan di usia mudanya dalam menghadapi konflik yang terjadi usai pernikahan berujung pada perceraian dini juga :)
Setelah ulasan mengenai pernikahan diatas, menyadari bahwa banyak resiko yang harus dihadapi jika menikah di usia yang terlalu muda. Menurut saya kita wajib berfikir secara matang dahulu sebelum bertindak untuk memutuskan melakukan pernikahan dini yang khususnya direntang umur 19 tahun kebawah, karena itu rentan terhadap dampak negatif yang akan menimpa seorang ibu atau anaknya. Jika ingin menikah di waktu muda, menikahla di kategori umur ideal.
·        Perempuan ( 21tahun)
·        laki-laki      ( 23-25 tahun)
Hidup kita yang nentukan. Pilihlah yang terbaik untuk kita sekarang dan kedepannya, tidak berfikir pendek namun berfikir jangka panjang, agar kita dapat lebih bijaksana dan berhati-hati dalam bersikap dan memutuskan suatu hal. Terimakasih :)

Minggu, 27 Oktober 2013

Testimonial Uts Online

Uts online ini membuat saya dapat mengutarakan pendapat saya dengan leluasa tanpa memikirkan batas waktu seperti saat saya dikelas,menyenangkan krna dapat dilakukan di mana saja..selain itu saya juga merasa kalau mata kuliah psi belajar ini sangat memanfaatkan adanya teknologi, ga gaptek dan sangat cool .. Saya akan mengkaitkannya dengan teori skinner stimuls respon yakni ketika saya menjawab no 1 ibu dina membalas dan memberi feedback atas jawaban saya melalui skor,nah dgan melihat skor yang diberikan saya pun semakin temotivasi dan smngat untuk menjawab soal berikutnya ..begitu seterusnya sampai saya selesai menjawab smua soalJ

Jumat, 18 Oktober 2013

Model Kognitif dan Teori Motivasi Akademik



Psikolog dan pendidik motivasional.. tertarik pada.. bagaimana pikiran ( anak ) mempengaruhi prilaku mereka – pilihan penting mereka di sekolah, keterlibatanmereka dalam tugas-tugas akademik, kemampuan mereka untuk gigih saat menghadapi kemunduran. (Dweck, 2002)
            Pikiran dan perasaan siswa tentang sekolah dan tugas sekolah merupakan fokus utama dalam riset dan teori tentang belajar. Satu contoh, yang dibahas di Bab 10, adalah ketangguhan diri (self-efficacy). Siswa dengan ketangguhan diri yang tinggi meningkatkan usahanya pada tugas yang sulit, gigih saat menghadapi rintangan, dan cenderung menentukan tujuan yang menantang. Fokus pada ketangguhan diri dan keyakinan dan nilai siswa lainnya berbeda dari pandangan sebelumnya yang mengusulkan insiting dan kehendak sebagai penyebab motivasi.
         Pendekatan berbeda untuk motivasi adalah pendapat bahwa pemahaman tentang penyebab kejadian di masa lalu akan memengaruhi tindakan individu di masa depan . pendekatan di mulai dengan karya Fritz Heider (1958) yang berfokus pada penyebab kejadian yang dikembangkan oleh “manusia di jalanan”. Misalnya, seseorang melompat saat naik kereta bawah tanah. Kondisi yang mungkin bertanggung jawab atas munculnya tindakan ini adalah faktor-faktor yang ada di dalam orang itu dan faktor-faktor di lingkungan.  Pertanyaan pertamanya adalah : apa penyebabnya ? kedua : informasi apa yang memengaruhi identifikasi penyebab ( misalnya keyakinan bahwa orang itu kumuh, tangan terkepal) ? ketiga : apa konsekuensi dari penyebab yang dipilih (atribusi) ? dengan kata lain, teoretisi atribusi fokus pada cara orang menjawab pertanyaan Mengapa ?

Asumsi Dasar
             Pendekatan utama untuk analisis motivasi tiga asumsi. Pertama, motivasi individual adalah hasil dari interaksi antara faktor lingkungan dengan karakterikstik tertentu dari anak (Wigfield & Eccles, 2002) diantaranya adalah norma social, catatan kinerja orang lain, reaksi afektif dari guru terhadap kesuksesas dan kegagalan siswa. Jenis tujuan dan struktur kelas, sejarah prestasi anak, dan keyakinan mereka tentang sifat dari kemampuan.
            Kedua, pemelajar adalah pemroses informasi yang aktif. Pada tingkat tertinggi, penilaian diri atas kapabilitas seseorang dan interpretasi informasi dari lingkungan juga telibat dalam motivasi yang berkaitan dengan prestasi.
            Ketiga, dan terkait dengan asumsi pertama, adalah bahwa motif, kebutuhan atau tujuan siswa adalah pengetahuan eksplisit. Artinya siswa dapat memikirkan keyakinan ini dan mengkomunikasikannya kepada orang lain. (Murphy & Alexander, 2000).

Komponen Proses Motivasional
            Ada tiga pendekatan untuk studi motivasi dalam latar yang berkaitan dengan prestasi adalah: (a) model ekspektasi nilai, (b) model orientasi tujuan; dan (c) teori atribusi.

Model Ekspektasi Nilai
        Model Ekspektasi Nilai ini adalah perluasan dari model Atkinson (19580, yang mendefinisikan ekspektasi dan nilai sebagai konstruk motivasional. Berbeda dengan model Atikinson, versi ini memandang ekspektasi dan nilai sebagai komponen kognitif daripada motivasional( Wigfield & Eccles, 1992)
 
Model Beorientasi Tujuan
        Berbeda dengan model ekspektasi nilai, model berorientasi tujuan membahas alasan siswa untuk melakukan tugas akademik, misalnya tujuan siswa di pelajaran biologi adalah untuk mendapat nilai A, namun pernyataan ini tidak mengindikasikan tujuan dari mengikuti pelajaran itu. Tetapi model berorientasi tujuan mencari tahu apakah  tujuannya adalah untuk mempelajari konsep baru, menunjukkan kompetensi seseorang kepada orang lain,
         Secara formal, orientasi tujuan adalah “ seperangkat niat kelakuan yang menentukan bagaimana siswa akan mendekati dan melakukan aktivitas belajar “ . deskripsi asli dari struktur tujuan siswa mengontraskan dua kategori umum yang merefleksikan tujuan yang berbeda dengan definisinya, adalah : (a) belajar dan tujuan kinerja, (b) penguasaan dan tujuan kinerja, (c) orientasi yang melibatkan tugaas dan ego.

Teori Atribusi
Model ekspektasi nilai dan model orientasi tujuan mendeskripsikan antisipasi khusus, nilai, atau alasan untuk mendekati dan melakukan tugas yang berkaitan dengan prestasi. Atau alasan untuk mendekati dan melakukan tugas yang berkaitan dengan prestasi. Lebih jauh, model orientasi tujuan mengidentifikasi strategi belajar positif dan negative yang diasosiasikan dengan orientasi tujuan yang berbeda-beda. Sebaliknya, Teori atribusi membahas pemikiran, emosi dan ekspektasi orang setelah muncul hasil yang terkait dengan pencapaian. (Weiner, 1980).